Oleh: Husdin La Kilo, Pj Kepala Desa Tikong
Perdebatan mengenai apakah kawasan ini layak disebut Pelabuhan Tikong atau Pelabuhan Sahu tampaknya semakin sering muncul dalam percakapan publik. Namun bagi saya, persoalan itu tetap berada di pinggir soal. Nama boleh beragam Tikong, Sahu, Bakiki, atau sebutan lainnya. Tetapi hingga hari ini, istilah Tikong masih menjadi pilihan yang paling wajar dan relevan untuk melekat pada pelabuhan tersebut.
Satu hal yang kerap disalahpahami adalah anggapan bahwa istilah Tikong merujuk langsung pada Desa Tikong. Sesungguhnya tidak demikian. Nama itu bersumber dari istilah lama dalam bahasa Taliabu “nTikong” yang berarti hol atau teluk. Ia lahir dari gambaran alam, bukan dari batas administrasi desa. Nama itu bertahan karena teluk ini sejak dulu menjadi tempat berlabuh, beristirahat, menunggu angin, dan menyusun perjalanan.
Teluk ini telah lama menjadi saksi kesibukan laut. Pada masa ketika perahu layar masih menghubungkan pulau-pulau, tempat ini menjadi persinggahan kapal-kapal legendaris seperti Roda Dunia, Jaya Sakti, Medan, dan Bunga Mawar. Waktu bergerak, teknologi berkembang, dan perahu berubah menjadi kapal bermesin. Namun pilihan para nakhoda tetap sama. Kapal Rahmat Rahman, Jaya Manuru, Wolio Kampoku, hingga Serbaguna, pernah menambatkan jangkar di teluk yang sama.

Dalam perjalanan sejarah yang lebih baru, kapal-kapal Fungka dari seri 1 hingga 9, Gravila, dan banyak armada lain datang silih berganti. Semuanya mencatatkan nTikong di rute perjalanan mereka, menunjukkan bahwa teluk ini bukan hanya strategis, tetapi juga telah menjadi simpul tradisi bahari Taliabu.
Jika kita tarik lebih jauh ke dalam jejak leluhur, riwayat nTikong semakin kaya. Disebutkan dalam cerita para tetua bahwa Kimlaha pernah menjadikan teluk ini sebagai titik muat hasil alam Taliabu untuk dibawa ke negeri-negeri di utara. Dari teluk inilah jejak Nenek Halimah dari Batu Atas menyentuh tanah Taliabu, sebelum menikah dengan pria Siboyo dari selatan, sebuah garis keturunan yang masih hidup hingga kini. Seluruh rangkaian peristiwa itu kemudian mengkristal dalam satu nama nTikong.
Dalam konteks itu, saya teringat pesan Soekarno yang masyhur: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Pelabuhan Tikong hari ini mungkin tampak jauh lebih modern dan sibuk dibanding masa lalu. Namun, tidak mungkin ia berdiri tanpa fondasi peristiwa yang telah ditanam oleh generasi sebelumnya. Nama nTikong bukan sekadar label, ia adalah saksi zaman, identitas, dan bukti kesinambungan sejarah.
Karena itu, saya berharap kisah nTikong tidak berhenti sebagai cerita yang hanya diingat oleh para tetua yang rambutnya mulai memutih. Semoga ia masuk ke ruang-ruang kelas, menjadi bagian dari pembelajaran lokal yang memperkaya wawasan peserta didik tentang jati diri pulau ini. Sebab sejarah bukan hanya catatan masa lalu, melainkan pupuk yang menyuburkan karakter generasi mendatang.
Penulis : Husdin La Kilo, Pj Kades Tikong






