Esay Oleh : Y. Tabaika/ Pimred
Tiga belas tahun adalah usia yang ganjil bagi sebuah daerah. Ia tidak lagi bisa disebut muda, tetapi juga belum cukup matang untuk berpuas diri. Di usia ini, Pulau Taliabu seperti berdiri di sebuah cermin besar, melihat ke belakang dengan jujur, dan ke depan dengan penuh tanya, sudah sejauh mana langkah ini benar-benar membawa perubahan?
Selama ini, pembangunan sering kali terasa seperti cahaya yang memilih tempatnya sendiri. Ia terang di satu sisi, tetapi redup di sisi lain. Ia hadir di pusat, tetapi kerap terlambat menyapa pinggiran. Dalam kenyataan seperti itu, “gelap” bukan sekadar kondisi alam, melainkan pengalaman hidup yang diam-diam diterima sebagai hal biasa.
Barangkali itulah mengapa kata “terang” menjadi terasa begitu penting di Taliabu. Ia bukan sekadar soal listrik, bukan sekadar jaringan kabel dan tiang yang berdiri. Terang adalah simbol dari sesuatu yang lebih dalam, pengakuan bahwa setiap manusia, di mana pun ia tinggal, berhak untuk dilihat, didengar, dan diperhitungkan.
Ketika sebuah lampu menyala untuk pertama kalinya di desa terpencil, yang berubah bukan hanya suasana malam. Ada sesuatu yang bergerak dalam batin manusia, perasaan bahwa mereka tidak lagi berada di luar peta perhatian. Bahwa negara, yang selama ini terasa jauh, akhirnya hadir dalam bentuk yang paling sederhana namun paling nyata.
Namun pertanyaannya tidak berhenti di sana. Apakah terang itu benar-benar akan merata, atau hanya menjadi kilau sesaat yang kembali menyisakan bayangan? Sejarah banyak mengajarkan bahwa niat baik sering kali terhenti di tengah jalan, kalah oleh jarak, oleh birokrasi, atau oleh ketidakseriusan menjaga komitmen.
Di titik inilah Taliabu sedang diuji. Bukan pada seberapa besar janji yang diucapkan, tetapi pada seberapa jauh janji itu bertahan ketika berhadapan dengan kenyataan. Sebab membangun daerah bukan hanya soal memulai, tetapi tentang kesanggupan untuk terus melanjutkan, bahkan ketika tidak ada lagi sorotan.
Terang yang sejati bukanlah yang hanya bisa dilihat dari jauh, melainkan yang benar-benar dirasakan dari dekat. Ia hadir di ruang belajar anak-anak, di dapur keluarga, di perahu nelayan, di usaha kecil yang perlahan tumbuh. Ia menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekadar proyek yang selesai di atas kertas.
Dan jika kesetaraan benar-benar ingin diwujudkan, maka terang itu harus kehilangan sifat eksklusifnya. Ia tidak boleh lagi menjadi sesuatu yang “diberikan”, tetapi harus menjadi sesuatu yang “dimiliki” oleh semua. Tidak ada desa yang terlalu jauh, tidak ada masyarakat yang terlalu kecil untuk diperhitungkan.
Tiga belas tahun seharusnya menjadi momen untuk berhenti sejenak, bukan untuk merayakan, tetapi untuk bertanya dengan lebih jujur, apakah arah yang ditempuh sudah benar? Apakah yang tertinggal sudah mulai terkejar? Atau justru kesenjangan itu masih dibiarkan berjalan perlahan tanpa disadari?
Taliabu hari ini berada di sebuah ambang. Di satu sisi, ia membawa beban masa lalu yang belum sepenuhnya selesai. Di sisi lain, ia memegang peluang untuk memperbaiki arah dengan lebih tegas. Tidak semua daerah mendapatkan kesempatan untuk benar-benar memulai ulang, dan mungkin inilah saatnya.
Pada akhirnya, titik balik tidak ditentukan oleh usia, tetapi oleh keberanian untuk berubah. Dan perubahan yang paling mendasar bukanlah pada apa yang dibangun, melainkan pada siapa yang akhirnya benar-benar merasakan hasilnya.
Jika suatu hari nanti seluruh desa di Taliabu benar-benar berdiri dalam terang yang sama, maka yang lahir bukan hanya kemajuan, tetapi martabat. Sebab di situlah pembangunan menemukan maknanya yang paling utuh, ketika tidak ada lagi yang merasa berjalan sendirian di dalam gelap.





















