Antara Hiburan, Budaya, dan Identitas Daerah
Oleh: Sulfan Kiye / Aktivis
Jika dilihat dari sisi kebudayaan, marwah Halmahera Timur sudah tak terlihat lagi. Dari rentang sejarah panjang Halmahera Timur, daerah ini dikenal sebagai daerah para kapita yang pada dasarnya berdiri atas nilai budaya ngaku re rasai, budi re bahasa, sopan re hormat, serta takut dan malu sebagai benteng atau hijab dalam menutupi segala sesuatu yang berkaitan dengan Halmahera Timur.
Bahkan dengan kehadiran artis ini telah menggugurkan nilai kebudayaan orang Halmahera Timur, karena pada sejatinya yang harus ditampilkan adalah lalayon, cakalele, kabata, dan budaya-budaya yang memiliki nilai tauhid untuk membentuk moral masyarakat Halmahera Timur. Namun mirisnya, pemahaman Pemda Haltim inilah yang nantinya mengundang bencana yang sangat dahsyat karena falsafah hidup orang Halmahera Timur tidak lagi ditegakkan.
Transisi kebudayaan yang terjadi hari ini telah mengalami kontroversi, karena apa yang ditampilkan oleh Pemerintah Halmahera Timur bersifat kebudayaan Barat yang sejatinya meruntuhkan moral negeri dan regenerasi Halmahera Timur. Negeri tane ngeri zikir ire salawat.
Dalam hal ini, seharusnya Halmahera Timur pada usia ke-23 tahun sudah menghidupkan kembali babak sejarah panjang dan budaya yang telah mengakar di bumi Halmahera Timur. Namun alih-alih, Pemda Haltim lebih memilih satu kebudayaan yang pada sejatinya membunuh pertumbuhan darah para kapita atau leluhur. Padahal, karena merekalah bumi Halmahera Timur tidak menjadi negeri yang pernah dijajah, tetapi negeri yang pernah melawan Portugis dan Spanyol serta mengabaikan tahta kerajaan demi Sultan Nuku.
Seharusnya spirit ini menjadi satu ajang pentas seni yang luar biasa untuk mengenang kembali para leluhur Halmahera Timur, karena mereka juga salah satu pasukan yang punya peran penting dalam membebaskan Maluku Utara dari penjajah. Pemerintah Halmahera Timur harus celi membaca dan melihat ini sebagai peluang untuk mengharumkan nama Halmahera Timur, bukan malah menjatuhkan marwah dan martabat daerah dengan menghadirkan salah satu artis yang dalam pandangan kebudayaan dinilai cacat secara moral dan nilai budaya itu sendiri.
Alih-alih, cara yang dilakukan Pemerintah Halmahera Timur untuk mengenang para pejuang, kapita, leluhur, dan tokoh-tokoh pemekaran Haltim itu salah, karena seharusnya yang dipentaskan harus bersifat kepemimpinan dan memiliki unsur-unsur kebudayaan masyarakat Halmahera Timur. Secara tinjauan sosiologi, watak masyarakat Haltim telah dimanipulatif sehingga berlangsungnya euforia HUT ke-23 menutupi mata kebenaran tentang kerusakan lingkungan yang terjadi di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Maba dan Maba Tengah.
Ini juga bagian dari peralihan isu untuk menutupi segala kegagalan Pemerintah Halmahera Timur dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan ekologi. Dalam tinjauan pembangunan, seharusnya ada pertimbangan penting antara ekonomi dan ekologi. Namun yang terjadi hanya meningkatkan ekonomi tetapi menyampingkan ekologi. Bahkan dalam aspek ekonomi pun tidak ada pemerataan pembagian, di mana guru-guru honorer masih menanti gaji yang tertunda lebih dari lima bulan. Hal ini juga menjadi bentuk kegagalan Pemerintah Halmahera Timur dalam melaksanakan tugasnya.
Sudah waktunya kita jujur dalam membangun Halmahera Timur, bahwa Halmahera Timur terdiri dari 10 kecamatan dan 102 desa yang seharusnya menjadi perhatian penuh pemerintah, bukan hanya memfokuskan pembangunan pada ibu kota kabupaten. Secara realitas, infrastruktur pembangunan yang mumpuni hanya terdapat di ibu kota kabupaten, sedangkan di luar itu terdapat banyak kerusakan lingkungan. Lalu yang dimaksud pemerintah tentang pencapaian pembangunan itu di mana?
Pemerintah Halmahera Timur harus mengembalikan esensi atau ruh Halmahera Timur dalam mengimani falsafah hidup masyarakatnya, untuk membentuk sumber daya manusia yang memiliki potensi agar mampu bertarung dalam segala hal. Perlu kiranya kita memahami bahwa dasar dari sebuah peradaban adalah adab yang lebih dulu dibangun dalam pembangunan sumber daya manusia dan sumber daya alam.
































