Ketika Desa Dipaksa Menanggung Ongkos Negara yang Gagal Menata Dirinya

- Jurnalis

Senin, 6 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: SULFI NH BUGIS

“Ketika Desa Dipaksa Menanggung Ongkos Negara yang Gagal Menata Dirinya”

Ada nuansa absurd yang terus menempel pada retorika pembangunan di negeri ini. Hampir setiap kebijakan lahir di bawah tiga kata yang seolah sakral: efisiensi, percepatan, dan inklusivitas desa. Ketiganya diposisikan sebagai mantra yang diyakini mampu menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.

Namun semakin sering mantra itu diulang, semakin tampak bahwa yang dipercepat bukanlah peningkatan kualitas hidup rakyat, melainkan lahirnya jargon-jargon baru yang terdengar meyakinkan.

Efisiensi dipuja seakan-akan menjadi hukum alam. Menolaknya dianggap sama dengan menolak kemajuan, sementara mendukungnya dipersepsikan sebagai bentuk patriotisme.

Padahal dalam teori administrasi publik, efisiensi bukan sekadar memangkas anggaran, melainkan menghasilkan manfaat publik sebesar-besarnya melalui pemanfaatan sumber daya secara optimal. Ketika pemotongan anggaran justru mengurangi kualitas pelayanan publik, mempersempit ruang pemberdayaan masyarakat, dan menghambat pembangunan desa, maka efisiensi berubah menjadi bahasa yang lebih halus untuk memindahkan beban kepada pihak yang paling lemah.

Ironisnya, negara tampak begitu hemat terhadap desa, tetapi menunjukkan kelambanan luar biasa dalam menghadapi penyakit lama bernama korupsi. Berbagai skandal penggelembungan proyek, suap pengadaan, hingga praktik rente terus bermunculan silih berganti. Penegakan hukum memang berjalan, tetapi belum mampu memutus akar persoalan. Korupsi tetap menjadi masalah yang berulang, sementara sumber daya yang mengalir ke desa justru terus dipersempit.

Ibarat seorang pemilik rumah yang memiliki banyak atap bocor, negara justru memilih menghemat dengan mengurangi jatah air minum para penghuninya. Dari sisi pembukuan mungkin terlihat efisien, tetapi dari sisi logika, kebijakan itu sama sekali tidak menyelesaikan sumber masalah.

Persoalan utama pembangunan nasional sesungguhnya bukan semata-mata soal keterbatasan anggaran, melainkan ketiadaan arah pembangunan yang konsisten. Hampir setiap kementerian memiliki prioritasnya sendiri, dan hampir seluruh program diberi label “strategis”. Transformasi, hilirisasi, digitalisasi, akselerasi, hingga inklusivitas menjadi kosa kata yang terus diulang dalam berbagai pidato. Ketika semua hal disebut prioritas, pada hakikatnya tidak ada lagi prioritas yang benar-benar jelas. Negara kehilangan kompas pembangunan.

Akibatnya, pembangunan menyerupai sebuah orkestra tanpa dirigen. Setiap instrumen memainkan nadanya sendiri-sendiri. Yang terdengar bukan harmoni, melainkan kebisingan yang dibungkus optimisme.

Desa kemudian menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Desa diminta mandiri, tetapi ruang fiskalnya dipersempit. Desa didorong berinovasi, tetapi anggaran pemberdayaan dikurangi. Desa diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, sementara instrumen pendukungnya terus berubah. Semua dibungkus dengan narasi percepatan, seolah pembangunan hanya ditentukan oleh kecepatan, padahal yang jauh lebih dibutuhkan adalah konsistensi kebijakan, kepastian regulasi, dan keberanian menyelesaikan persoalan mendasar.

Contoh yang paling nyata terlihat pada peluncuran Koperasi Desa Merah Putih. Secara konseptual, koperasi memiliki posisi penting dalam sejarah ekonomi Indonesia. Persoalannya bukan pada gagasan koperasi itu sendiri, melainkan pada munculnya institusi baru ketika BUMDes telah lebih dahulu dibentuk melalui landasan hukum sebagai motor penggerak ekonomi desa.

READ  AKPERSI Minta Presiden Tak Generalisasi Wartawan atas Pernyataan "Londo Ireng"

Negara belum memberikan penjelasan yang memadai mengenai hubungan keduanya. Apakah Koperasi Desa Merah Putih akan melengkapi BUMDes, mengambil sebagian fungsinya, atau justru menciptakan persaingan kelembagaan di tingkat desa? Jika ruang geraknya saling tumpang tindih, siapa yang menjadi lokomotif pembangunan ekonomi desa? Jika orientasinya berbeda, mengapa desain integrasinya tidak dijelaskan secara terbuka?

Kebiasaan lama kembali terulang. Setiap persoalan dijawab dengan membentuk lembaga atau program baru, bukan memperkuat institusi yang telah ada. Padahal BUMDes sendiri di banyak daerah masih menghadapi tantangan tata kelola, penguatan kapasitas, dan model bisnis yang berkelanjutan. Sebelum evaluasi nasional benar-benar tuntas, perhatian pemerintah sudah beralih kepada program baru yang kembali dibebankan kepada desa.

Desa akhirnya diperlakukan seperti laboratorium kebijakan. Hari ini diwajibkan membentuk BUMDes, besok diminta membangun koperasi nasional, dan bukan tidak mungkin lusa muncul lagi nomenklatur baru dengan logo, slogan, dan target yang berbeda. Yang berubah hanyalah nama program, sementara kebingungan aparat desa dalam menerjemahkan arah kebijakan tetap berlangsung.

Negara tampaknya lebih gemar meluncurkan program daripada memastikan keberhasilannya. Lebih sibuk meresmikan daripada mengevaluasi. Lebih antusias menciptakan simbol daripada membangun institusi yang benar-benar kuat.

Padahal yang dibutuhkan desa jauh lebih sederhana: kepastian. Keberlanjutan, bukan kejutan. Ruang fiskal yang memadai, bukan sekadar retorika dalam pidato. Istilah “desa inklusif” pun akan kehilangan makna apabila hanya diukur dari banyaknya kata “partisipasi” dalam dokumen kebijakan. Inklusivitas hanya memiliki arti ketika masyarakat desa benar-benar dilibatkan dalam menentukan arah pembangunan, bukan sekadar menerima daftar program yang dirancang dari pusat.

Pembangunan yang sehat adalah pembangunan yang memperlakukan desa bukan sebagai objek administratif, melainkan sebagai subjek utama pembangunan. Negara semestinya hadir memperkuat kapasitas lokal, bukan terus-menerus mengubah aturan permainan sehingga desa hanya menjadi pelaksana kebijakan yang datang silih berganti.

Ironi terbesar justru terletak di sini.

Negara terus menuntut desa menjadi mandiri, padahal negara sendiri belum mampu melepaskan diri dari kebiasaan memproduksi kebijakan yang saling tumpang tindih. Desa diminta profesional, sementara regulasinya berubah lebih cepat daripada musim tanam. Desa dituntut adaptif, sementara banyak kementerian sendiri belum selesai menyesuaikan program tahun sebelumnya.

Ukuran keberhasilan pembangunan tidak pernah ditentukan oleh banyaknya slogan di baliho atau seringnya peluncuran program baru. Ukurannya adalah apakah petani memperoleh nilai tambah atas hasil produksinya, apakah nelayan mendapatkan akses pasar yang adil, apakah anak-anak muda masih melihat masa depan di desanya sendiri, dan apakah pemerintah desa memiliki ruang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

READ  Salimah dan BKMT Haltim Bentuk Panitia Bersama Ansyithah Muharram di Tutuling Jaya, Usung Tema "Hijrah untuk Negeri"

Selama korupsi tetap menjadi kebocoran terbesar yang tidak berhasil ditutup, selama kebijakan berubah mengikuti irama politik ketimbang kebutuhan warga, dan selama lembaga baru terus dibentuk tanpa evaluasi yang memadai terhadap lembaga yang telah ada, maka narasi percepatan pembangunan tidak lebih dari sebuah kendaraan yang dipacu kencang di jalan tanpa tujuan yang jelas.

Sejarah mengajarkan bahwa sebuah bangsa tidak gagal karena kekurangan program. Bangsa gagal ketika terlalu sibuk mengganti kemudi tanpa pernah memastikan arah pelayarannya. Dalam situasi seperti itu, desa selalu menjadi penumpang yang duduk paling depan—diminta tetap tenang ketika kapal mulai kehilangan keseimbangan.

Jika negara tidak segera menambal kebocoran pada tata kelolanya sendiri, memperjelas arah pembangunan, serta memberikan kepastian kepada desa, maka retorika tentang efisiensi, percepatan, dan inklusivitas hanya akan menjadi topeng yang melegitimasi pengalihan beban kepada pihak yang paling rapuh.

Related posts:

Diduga Alihkan Dana Proyek, Mantan Kuasa Direktur PT Astama Adhi Karya Dilaporkan ke Polda Metro Jay...

Agustus 1, 2026
Hukum

AKPERSI Minta Presiden Tak Generalisasi Wartawan atas Pernyataan "Londo Ireng"

Juli 25, 2026
Nasional

Final Piala Dunia 2026 Makin Panas, Ayah Erik Yakin Argentina Angkat Trofi

Juli 19, 2026
Nasional

Bupati Ubaid Yakub Buka TMMD ke-129 di Haltim, Tegaskan Sinergi TNI dan Pemda Bangun Desa

Juli 15, 2026
Nasional

Siswa SMP Asal Halmahera Tengah Raih Penghargaan Khusus dari NASA Lewat Program Vulnerability Disclo...

Juli 11, 2026
Nasional

Demokrasi Tidak Meminta Rakyat Diam

Juli 7, 2026
Nasional

Angkatan Muda Togale Haltim Desak Polda Maluku Utara Usut Tuntas Dugaan Pelecehan Tarian Adat Cakale...

Juni 30, 2026
Nasional

1.000 Bibit Durian Bantuan Dinas Pertanian Mati, Warga Talaga Jaya Minta Evaluasi Penyaluran

Juni 25, 2026
Nasional

Salimah dan BKMT Haltim Bentuk Panitia Bersama Ansyithah Muharram di Tutuling Jaya, Usung Tema "Hijr...

Juni 20, 2026
Nasional

GEMMU Jabodetabek Demo Kejagung dan Kementerian PU, Soroti Dugaan Penyimpangan Proyek Bendungan Irig...

Juni 17, 2026
Nasional

Ketua GRIB Haltim Soroti Tuntutan Kompensasi Lahan Masyarakat Lingkar Tambang PT Alam Raya Abadi

Juni 13, 2026
Halmahera Timur

Kapolres Singkawang Berikan Penghargaan kepada Bhabinkamtibmas Berprestasi, Apresiasi Dedikasi untuk...

Juni 11, 2026
Nasional

Pemerintah Kota Singkawang Percepat Program Penyediaan 4.000 Rumah Layak Huni

Juni 11, 2026
Nasional

Harga Pertamax Naik, DPR dan Pemerintah Siapkan Stimulus, Migrasi ke Pertalite Diprediksi Meningkat ...

Juni 11, 2026
Nasional

Dukung Kebijakan Prabowo Ganti Kepala BGN, Mislan Syarif Optimistis MBG Lebih Efektif

Juni 4, 2026
Maluku Utara

Perkuat Kelembagaan, Ketum AKPERSI Serahkan SK Pengurus DPD Banten

Mei 17, 2026
Nasional

DPP AKPERSI dan LIRA Perkuat Sinergi Kawal Demokrasi dan Kebebasan Pers

Maret 12, 2026
Nasional

Rakernas APDESI Merah Putih Tekankan Peran Strategis Desa Menyiapkan Generasi Emas 2045

Februari 7, 2026
Press Release

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikharianpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diduga Alihkan Dana Proyek, Mantan Kuasa Direktur PT Astama Adhi Karya Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
AKPERSI Minta Presiden Tak Generalisasi Wartawan atas Pernyataan “Londo Ireng”
Final Piala Dunia 2026 Makin Panas, Ayah Erik Yakin Argentina Angkat Trofi
Bupati Ubaid Yakub Buka TMMD ke-129 di Haltim, Tegaskan Sinergi TNI dan Pemda Bangun Desa
Siswa SMP Asal Halmahera Tengah Raih Penghargaan Khusus dari NASA Lewat Program Vulnerability Disclosure
Demokrasi Tidak Meminta Rakyat Diam
Angkatan Muda Togale Haltim Desak Polda Maluku Utara Usut Tuntas Dugaan Pelecehan Tarian Adat Cakalele
1.000 Bibit Durian Bantuan Dinas Pertanian Mati, Warga Talaga Jaya Minta Evaluasi Penyaluran

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 08:41 WIT

Diduga Alihkan Dana Proyek, Mantan Kuasa Direktur PT Astama Adhi Karya Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:29 WIT

AKPERSI Minta Presiden Tak Generalisasi Wartawan atas Pernyataan “Londo Ireng”

Minggu, 19 Juli 2026 - 07:17 WIT

Final Piala Dunia 2026 Makin Panas, Ayah Erik Yakin Argentina Angkat Trofi

Rabu, 15 Juli 2026 - 04:24 WIT

Bupati Ubaid Yakub Buka TMMD ke-129 di Haltim, Tegaskan Sinergi TNI dan Pemda Bangun Desa

Sabtu, 11 Juli 2026 - 06:42 WIT

Siswa SMP Asal Halmahera Tengah Raih Penghargaan Khusus dari NASA Lewat Program Vulnerability Disclosure

Berita Terbaru