Saat Uang Rakyat Terancam Gelombang Kelalaian Teknis. Baru Seminggu Dikerjakan, Kerangka Proyek Rp970 Juta Ambruk Dihantam Ombak

- Jurnalis

Rabu, 21 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halsel, detikharianpos.com – Pembangunan dermaga di Desa Tagono, Kecamatan Makeang Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, mendadak menjadi sorotan publik. Belum juga genap sepekan proses pengerjaan berjalan, kerangka proyek infrastruktur laut bernilai hampir satu miliar rupiah ini dilaporkan sudah ambruk.

Kejadian ini sontak memicu gelombang pertanyaan besar dari masyarakat: bagaimana perencanaan teknis, analisis lokasi, hingga pengawasan proyek bersumber dari uang rakyat ini sebenarnya dijalankan.

Proyek DAU senilai Rp970 Juta

Berdasarkan papan informasi di lokasi, proyek ini bernilai kontrak Rp970.336.239 yang bersumber dari APBD melalui Dana Alokasi Umum (DAU) TA 2026. Dengan nomor kontrak 550/15/SPEL-DAU/PHB-HS/VIII/2026 yang ditandatangani pada 3 Agustus 2026, pekerjaan berdurasi 130 hari kalender ini dipercayakan kepada CV Indong Saputri sebagai pihak kontraktor pelaksana.

Dermaga ini sejatinya menjadi tumpuan harapan warga pesisir untuk memperlancar mobilitas dan memutar roda ekonomi antar-pulau. Namun, harapan itu kini dibayangi kecemasan akibat konstruksi awal yang terkesan rapuh dan dipaksakan.

Menantang Ombak Tanpa Kajian Matang?

Kondisi memprihatinkan ini memantik reaksi keras dari Direktur Teras Ekonomi Pesisir Maluku Utara, Fauji Yamin. Setelah meninjau langsung ke lapangan, Fauji mengungkapkan adanya kekeliruan mendasar pada pemilihan titik lokasi pembangunan.

“Saya sendiri sudah melihat lokasinya. Pembangunannya berada tepat di titik yang berhadapan langsung dengan hantaman ombak. Kondisi ini semestinya menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan teknis, terutama agar struktur bangunan benar-benar sanggup menghadapi karakteristik gelombang dan arus laut setempat,” tegas Fauji.

Menurutnya, membangun di wilayah pesisir tidak bisa sekadar mengejar penyerapan anggaran atau formalitas menyelesaikan kontrak. Butuh survei mendalam mulai dari arah arus, karakteristik dasar perairan, hingga potensi cuaca ekstrem. Jika aspek teknis ini diabaikan, proyek yang bertujuan memberi manfaat justru berisiko tinggi menjadi potensi bahaya dan pemborosan anggaran daerah.

READ  Perahu Terbalik di Pantai Tulang Ikan, Dufa-Dufa 1 Orang Dinyatakan Hilang Dan 1 Korban Meninggal Dunia

Aspirasi Warga Diabaikan, Pemenang Tender Bukan Alasan

Fauji juga menyayangkan sikap acuh terhadap masukan masyarakat lokal yang paling paham dengan karakter alam di kawasan tersebut.

“Kalau alasannya proyek harus segera dikerjakan karena sudah memenangkan tender sementara suara warga diabaikan, itu cara berpikir yang keliru. Kemenangan tender bukan alasan untuk mengesampingkan kelayakan teknis dan kondisi riil di lapangan,” cecarnya.

Ia mengingatkan bahwa transparansi, akuntabilitas, dan prinsip kehati-hatian harus diutamakan. Kualitas bangunan yang bertahan dalam jangka panjang jauh lebih penting daripada sekadar laporan fisik pengerjaan yang rampung di atas kertas.

Desakan Evaluasi dan Pemeriksaan Lapangan

Atas insiden ambruknya kerangka dermaga ini, Fauji mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan melalui instansi teknis terkait untuk turun tangan melakukan investigasi komprehensif. Pemeriksaan ini penting untuk membongkar penyebab pasti kegagalan awal konstruksi sekaligus menentukan langkah perbaikan yang tepat.

“Uang yang digunakan adalah uang publik. Setiap rupiah harus dipertanggungjawabkan dengan menghasilkan infrastruktur yang aman dan berkualitas. Jangan sampai masyarakat pesisir justru yang menanggung dampak dari pembangunan yang tidak dipersiapkan secara matang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikharianpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Proyek Jalan Makian Barat Senilai Rp4,7 M Disorot, Kualitas Diduga Jauh dari Standar SNI
Dinilai Membebani Pasien, Rencana Penerapan Retribusi di RSUD Labuha Ditolak DPRD 
Samurai Menolak Rencana Kebijakan Parkir Berbayar, Kualitas Fasilitas Kesehatan RSUD Labuha Perlu Berbenah

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:16 WIT

Proyek Jalan Makian Barat Senilai Rp4,7 M Disorot, Kualitas Diduga Jauh dari Standar SNI

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:11 WIT

Saat Uang Rakyat Terancam Gelombang Kelalaian Teknis. Baru Seminggu Dikerjakan, Kerangka Proyek Rp970 Juta Ambruk Dihantam Ombak

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 17:30 WIT

Dinilai Membebani Pasien, Rencana Penerapan Retribusi di RSUD Labuha Ditolak DPRD 

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:47 WIT

Samurai Menolak Rencana Kebijakan Parkir Berbayar, Kualitas Fasilitas Kesehatan RSUD Labuha Perlu Berbenah

Berita Terbaru

error: Content is protected !!