Taliabu, Detikharianpos.com – Prestasi yang ditorehkan kontingen Kabupaten Pulau Taliabu pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XII Maluku Utara 2026 di Kabupaten Pulau Morotai kini diiringi sorotan publik. Di balik keberhasilan atlet mengharumkan nama daerah, pengelolaan anggaran kontingen mulai dipertanyakan setelah muncul berbagai informasi mengenai keterbatasan fasilitas dan pelayanan yang diterima para atlet.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejak keberangkatan menuju POPDA XII, kontingen Kabupaten Pulau Taliabu dikabarkan telah menghadapi keterbatasan fasilitas. Rombongan atlet yang bertolak dari Pulau Taliabu menuju Kota Ternate disebut dijemput dari Pelabuhan Ahmad Yani menggunakan mobil picup untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi keberangkatan berikutnya.
Sorotan semakin menguat setelah muncul informasi bahwa tiga atlet tinju peraih medali dikabarkan hanya dibekali uang sebesar Rp300 ribu saat berada di Kota Ternate sebelum kembali ke Pulau Taliabu.
Menurut informasi yang diperoleh, uang tersebut diberikan dengan alasan keterbatasan anggaran. Dari total Rp300 ribu, sebesar Rp100 ribu digunakan untuk biaya transportasi menuju rumah pribadi pelatih tinju yang dijadikan tempat menginap para atlet, sedangkan sisa Rp200 ribu digunakan sebagai uang makan bagi tiga atlet dan seorang pelatih.
Pelatih tinju Pulau Taliabu membenarkan bahwa dirinya membawa para atlet menginap di rumah pribadinya karena sebelumnya telah mendapat informasi dari salah satu pendamping bahwa anggaran kegiatan mengalami kekurangan.
“Karena disampaikan anggaran kurang, akhirnya saya bawa anak-anak tinggal di rumah saya sampai menunggu jadwal kapal untuk kembali ke Taliabu,” ujarnya.
Di tengah polemik tersebut, cabang olahraga tinju justru menjadi salah satu penyumbang medali bagi Kabupaten Pulau Taliabu. Glenaldo Menehaya meraih Juara II kategori Youth Putra kelas 48 kilogram, Mudzaif Saputra DJ La Hade meraih Juara III kategori Youth Putra kelas 51 kilogram, dan Antonia Chika Ohoiledjaan meraih Juara II kategori Youth Putri kelas 54 kilogram. Sementara Fijal Karim belum berhasil meraih medali, namun tetap menunjukkan semangat juang selama pertandingan.
Polemik ini semakin mendapat perhatian setelah salah satu orang tua atlet menyampaikan pernyataan melalui grup WhatsApp yang berjudul “Manipulatif Bertopeng Kebanggaan”.
Dalam pernyataannya, orang tua atlet mengaku bangga atas prestasi yang diraih anaknya. Namun, ia mempertanyakan bentuk dukungan yang diberikan kepada para atlet sejak masa karantina hingga kepulangan.
Ia menyebut atlet tinju tidak menerima uang jajan selama masa karantina sebagaimana yang dikabarkan diterima sebagian atlet dari cabang olahraga lain. Ia juga menyoroti proses kepulangan atlet yang dinilai minim pendampingan.
“Kami bangga dengan prestasi anak-anak, tetapi perhatian terhadap mereka jangan hanya berhenti pada ucapan selamat dan apresiasi. Atlet juga membutuhkan pelayanan yang layak,” tulisnya dalam pernyataan tersebut.
Pernyataan itu turut mempertanyakan sejauh mana anggaran kontingen dikelola untuk memenuhi kebutuhan atlet selama mengikuti POPDA XII.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu melalui Dinas Pemuda dan Olahraga mengalokasikan anggaran sekitar kurang lebih Rp250 juta untuk keikutsertaan kontingen pada ajang POPDA XII Maluku Utara 2026.
Besaran anggaran tersebut kini menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah pihak berharap Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu dan Dinas Pemuda dan Olahraga dapat menjelaskan secara terbuka rincian penggunaan anggaran, mulai dari biaya transportasi, akomodasi, konsumsi, uang harian, pendampingan atlet, hingga biaya kepulangan kontingen.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pulau Taliabu, Elma Larakaba, mengatakan akan meminta penjelasan dari Sekretaris Dispora yang mendampingi kontingen selama kegiatan.
“Siapa yang lapor? Saya tanya saya punya sekretaris dulu karena beliau yang dampingi. Atlet tinju tiga orang itu permintaan pelatih. Kalau terkait uang makan saya konfirmasi dulu dengan sekretaris ya kebenarannya,” tulis Elma melalui pesan WhatsApp, Senin (13/7/2026).
Elma juga menyampaikan bahwa pihaknya berencana melakukan pengecekan terhadap kondisi para atlet serta menambahkan uang makan apabila memang belum terpenuhi.
Munculnya berbagai informasi mengenai fasilitas keberangkatan, akomodasi, konsumsi, hingga kepulangan atlet membuat publik menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kontingen olahraga Kabupaten Pulau Taliabu. Transparansi penggunaan anggaran dinilai penting, tidak hanya sebagai bentuk akuntabilitas kepada masyarakat, tetapi juga sebagai wujud penghargaan terhadap perjuangan para atlet yang telah membawa nama baik daerah di tingkat provinsi. (*)








































