Taliabu, Detikharianpos.com – Polemik terkait pengelolaan kontingen Kabupaten Pulau Taliabu pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XII Maluku Utara 2026 terus bergulir. Setelah mencuatnya pemberitaan mengenai dugaan minimnya dukungan terhadap atlet tinju, kini salah satu orang tua atlet peraih medali turut menyampaikan kekecewaannya melalui sebuah pernyataan tertulis yang beredar di grup WhatsApp.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Steven, orang tua atlet tinju peraih medali perak Antonia Chika Ohoiledjaan, dalam tulisan berjudul “Manipulatif Bertopeng Kebanggaan”.
Dalam pernyataannya, Steven mengaku bangga atas prestasi yang diraih putrinya bersama atlet-atlet tinju lainnya yang berhasil mengharumkan nama Kabupaten Pulau Taliabu pada ajang POPDA XII Maluku Utara 2026. Namun, di balik capaian tersebut, ia menilai perhatian dan dukungan yang diberikan kepada para atlet belum sebanding dengan perjuangan yang mereka lakukan.
Menurut Steven, persoalan tersebut sudah mulai dirasakan sejak masa karantina di Bobong. Ia menyebut atlet tinju tidak menerima uang jajan sebagaimana yang dikabarkan diterima oleh sebagian atlet dari cabang olahraga lain hingga keberangkatan menuju Kabupaten Pulau Morotai.
Selain itu, ia juga menilai berbagai bentuk apresiasi yang disampaikan setelah para atlet berhasil meraih prestasi lebih banyak bersifat simbolis dibandingkan diwujudkan dalam perhatian nyata terhadap kebutuhan atlet.
“Kami orang tua sangat kecewa atas bentuk dukungan serta apresiasi yang terkesan sensasional oleh beberapa kalangan. Kelihatan hebat dan membanggakan, ternyata semua hanya dalam bentuk khayalan,” tulis Steven dalam pernyataannya.
Steven juga menyoroti proses kepulangan para atlet usai mengikuti POPDA XII. Menurutnya, sebagian atlet kembali ke Pulau Taliabu menggunakan Kapal Sabuk Nusantara, sementara empat hingga lima atlet lainnya dijadwalkan pulang menggunakan KM Al Sudais tanpa didampingi.
Ia menilai kondisi tersebut bertolak belakang dengan berbagai pujian yang diberikan kepada para atlet setelah berhasil mengharumkan nama daerah.
“Kita bangga dengan prestasi, tetapi kita bagian dari sekumpulan penerima pujian tanpa dosa. Saya mewakili orang tua generasi Taliabu menyatakan STOP bohongi kami. Saya pastikan ke depan tidak akan ada lagi atlet jika cara kalian seperti ini,” tulisnya.
Steven juga mengkritik banyaknya pihak yang mengaku bangga atas keberhasilan atlet, namun menurutnya tidak menunjukkan kepedulian yang nyata terhadap kesejahteraan para atlet.
“Bangga tanpa dasar dan etika. Anak-anak hanya menjadi santapan kebanggaan kaum pencari muka, pencari jempol, dan perebut pujian,” tulisnya.
Dalam pernyataan yang sama, Steven mengaku sempat menerima telepon dari putrinya yang menyampaikan telah menerima uang sebesar Rp700 ribu. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari para atlet, dana tersebut merupakan uang perjalanan yang diberikan oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pulau Taliabu saat rombongan masih berada di Kabupaten Pulau Morotai sebelum bertolak kembali ke Taliabu.
Meski demikian, menurut Steven, pemberian uang perjalanan tersebut bukanlah inti persoalan. Ia menegaskan bahwa yang dipersoalkan para orang tua adalah bentuk perhatian pemerintah terhadap para atlet sejak masa karantina, selama mengikuti pertandingan, hingga proses kepulangan ke daerah.
Sebelumnya, Detikharianpos.com juga memperoleh keterangan dari pelatih tinju Kabupaten Pulau Taliabu terkait kondisi kepulangan para atlet usai mengikuti POPDA XII di Kabupaten Pulau Morotai. Menurut pelatih, para atlet hanya menerima uang sebesar Rp300 ribu setibanya di Kota Ternate. Dana tersebut digunakan untuk biaya transportasi dari Pelabuhan Ahmad Yani menuju rumah pelatih yang dijadikan tempat menginap sementara, sementara sisa uang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan makan tiga atlet sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Pulau Taliabu.
Sebagai informasi terbaru, sejak Selasa (14/7) dini hari, para atlet tinju Kabupaten Pulau Taliabu telah dipindahkan ke sebuah penginapan di Kota Ternate. Sebelumnya, mereka menginap di rumah pelatih setelah tiba dari Morotai sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal menuju Pulau Taliabu. Pemindahan tersebut dilakukan setelah kondisi para atlet menjadi perhatian publik melalui pemberitaan media.
Pernyataan Steven menambah sorotan terhadap pengelolaan kontingen Pulau Taliabu pada POPDA XII. Sejumlah kalangan berharap Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu melakukan evaluasi terhadap sistem pembinaan, pelayanan, dan pengelolaan anggaran kontingen agar atlet yang mewakili daerah memperoleh dukungan yang lebih baik pada ajang olahraga berikutnya.
Di akhir pernyataannya, Steven menegaskan siap mempertanggungjawabkan seluruh isi pernyataannya dan mempersilakan pihak yang merasa keberatan untuk memberikan klarifikasi.
“Jika ada pihak yang menyatakan ini berita bohong atau hoaks, silakan saja. Jika ada yang ingin melakukan klarifikasi, silakan lakukan pembelaan dan pembenaran. Saya selaku orang tua salah satu atlet akan menyampaikan semua ini secara terbuka melalui pers dan pemberitaan media,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pulau Taliabu sebelumnya telah memberikan penjelasan terkait informasi yang beredar mengenai pembiayaan kontingen POPDA XII Maluku Utara 2026. (*)








































