Haltim, Detikharianpos.com – Inovasi di sektor pertanian kembali lahir dari Desa Tutuling Jaya, Kecamatan Wasile Timur, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim). Dua putra daerah, Edi Soekarno dan Dwi Muhammad Wardiono, berhasil mengembangkan MA 11 F2 (Mikrobakteri Alfafa-11), sebuah aktivator dan dekomposer mikroba super yang mampu menguraikan berbagai bahan organik menjadi pupuk, pakan ternak, maupun molase dalam waktu yang relatif singkat.
Pengembangan MA 11 berhasil dilakukan setelah keduanya mengikuti pelatihan yang difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI) sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat dan pengembangan sektor pertanian berbasis potensi lokal.
MA 11 merupakan cairan yang mengandung mikroorganisme pengurai aktif yang berfungsi mempercepat proses fermentasi dan penguraian limbah organik.
Dengan teknologi sederhana namun efektif, produk ini mampu mengubah berbagai bahan organik seperti kotoran ternak, sisa tanaman, dan limbah pertanian lainnya menjadi Pupuk Organik Cair (POC) maupun kompos hanya dalam waktu sekitar satu hingga dua hari.
Kepala Desa Tutuling Jaya, Wagito, mengatakan pengembangan MA 11 mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia, baik melalui pelatihan maupun penyediaan bahan-bahan yang diperlukan dalam proses pembuatannya.
“Sebagian bahan untuk pembuatan MA 11 disiapkan oleh Bank Indonesia, sementara bahan lainnya mudah diperoleh di wilayah setempat. Program ini sangat membantu masyarakat dalam mengembangkan inovasi yang bermanfaat bagi sektor pertanian dan peternakan,” ujar Wagito.
Menurutnya, kehadiran MA 11 menjadi solusi bagi petani dan peternak dalam mengelola limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, produk ini juga mampu menghasilkan pupuk organik berkualitas dengan biaya yang lebih terjangkau.
“MA 11 kami fokuskan untuk mendukung kebutuhan petani dan peternak, khususnya di Desa Tutuling Jaya dan wilayah Kecamatan Wasile Timur. Harapannya, produk ini dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendorong kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pupuk organik,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu pengembang MA 11, Edi Soekarno, menjelaskan bahwa mikroorganisme yang terkandung dalam produk tersebut bekerja secara aktif dalam proses fermentasi sehingga mampu mempercepat penguraian bahan organik dan menghasilkan pupuk yang lebih cepat siap digunakan.
“MA 11 dirancang untuk membantu petani dan peternak mengolah limbah organik menjadi pupuk yang memiliki nilai guna tinggi. Selain ramah lingkungan, proses pembuatannya juga lebih cepat, efisien, dan mudah diterapkan oleh masyarakat,” jelas Edi.
Manfaat MA 11 juga telah dirasakan langsung oleh para petani yang menggunakannya. Salah seorang petani di Desa Tutuling Jaya, Wiyardi, mengaku puas dengan hasil yang diperoleh setelah menerapkan pupuk cair organik tersebut pada lahan pertaniannya.
“Hasilnya sangat bagus. Tanaman tumbuh lebih subur, daun lebih hijau, dan pertumbuhannya terlihat lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ungkap Wiyardi.
Dengan hadirnya MA 11, masyarakat berharap inovasi karya putra daerah ini dapat terus berkembang dan menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Halmahera Timur.
Selain mendukung peningkatan hasil pertanian dan peternakan, MA 11 juga diharapkan menjadi contoh keberhasilan pemanfaatan teknologi tepat guna berbasis sumber daya lokal untuk mewujudkan sektor pertanian yang lebih maju, mandiri, dan berkelanjutan.
Penulis : Amat


































