Haltim, Detikharianpos.com – Di tengah derasnya arus masuk beras dari luar daerah yang memengaruhi harga jual hasil panen petani, para petani padi di Desa Toboino, Kecamatan Wasile Timur, Kabupaten Halmahera Timur, tetap bertahan menggarap sawah.
Semangat mereka menjaga produksi beras lokal menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan di Halmahera Timur.
Salah satu petani, Amin Riyadin, mengaku telah lama menekuni usaha tani padi. Hingga saat ini, ia masih aktif mengelola lahan persawahan seluas kurang lebih 1,25 hektare yang ditanami varietas unggul Inpari 32.
Menurut Amin, tanaman padinya kini telah memasuki usia sekitar 30 hari setelah tanam (HST). Sementara itu, pemupukan lanjutan baru dilakukan sekitar dua hari lalu. Kondisi tanaman masih tumbuh dengan baik dan pasokan air di areal persawahan masih mencukupi.
“Alhamdulillah kondisi air masih aman, sehingga pertumbuhan padi sejauh ini berjalan normal,” ujar Amin saat ditemui di lokasi persawahan.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman, Amin menggunakan pupuk non-subsidi yang dibelinya seharga sekitar Rp100 ribu per karung ukuran 50 kilogram. Menurutnya, harga pupuk bersubsidi memang lebih murah, namun tidak selalu mudah diperoleh sehingga sebagian petani memilih menggunakan pupuk non-subsidi.
Ia menjelaskan, hingga saat ini tanaman padinya belum mengalami serangan hama. Namun, berdasarkan pengalaman selama bertani, hama biasanya mulai muncul ketika tanaman memasuki usia 30 hingga 40 hari setelah tanam. Karena itu, ia rutin melakukan pemantauan agar serangan hama dapat diantisipasi sedini mungkin.
Amin juga mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur terhadap sektor pertanian. Menurutnya, pemerintah telah memberikan berbagai bantuan berupa alat dan sarana pertanian yang sangat membantu para petani dalam meningkatkan produktivitas.
“Kami bersyukur pemerintah daerah sudah memberikan bantuan alat pertanian dan berbagai dukungan lainnya. Bantuan itu sangat membantu pekerjaan kami di sawah,” katanya.
Meski demikian, Amin berharap perhatian pemerintah tidak hanya sebatas penyediaan sarana produksi, tetapi juga perlindungan terhadap harga hasil panen petani. Saat ini harga beras lokal berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram, setelah sebelumnya sempat turun hingga Rp7 ribu per kilogram. Menurutnya, harga beras lokal sering mengalami penurunan ketika pasokan beras dari luar daerah membanjiri pasar Halmahera Timur.
Kondisi tersebut membuat petani lokal kesulitan memperoleh keuntungan yang layak. Padahal, biaya produksi mulai dari pembelian pupuk, perawatan tanaman, hingga upah tenaga kerja terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
“Harapan kami, harga beras ke depan bisa lebih baik agar petani juga bisa lebih sejahtera. Kalau beras dari luar terus masuk, harga beras lokal langsung turun dan petani yang paling merasakan dampaknya,” ungkapnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara dapat mengambil langkah strategis untuk melindungi hasil produksi petani lokal, baik melalui kebijakan pemasaran, penguatan penyerapan beras lokal, maupun pengendalian masuknya beras dari luar daerah pada saat musim panen.
Menurutnya, perhatian terhadap sektor pertanian tidak hanya penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
Dengan hamparan sawah yang masih produktif di Desa Toboino, para petani berharap pertanian padi tetap menjadi sektor unggulan yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.
Mereka optimistis, dengan dukungan pemerintah serta kebijakan yang berpihak kepada petani, beras lokal Halmahera Timur akan semakin mampu bersaing dan menjadi kebanggaan daerah.
Penulis : Amat

































