Haltim, Detikharianpos.com – Yayasan Fasigaro Maluku Utara menggelar seminar bertajuk “Napak Tilas Sejarah Perang Dunia II di Wasile Tengah” di Aula SMA Negeri 6 Halmahera Timur, Kecamatan Wasile Tengah, Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini menjadi upaya nyata untuk menghidupkan kembali jejak sejarah Perang Dunia II sekaligus mendorong pelestarian warisan budaya di Kabupaten Halmahera Timur.
Seminar tersebut merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan yang didukung Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku Utara. Kegiatan diikuti oleh pelajar, guru, tokoh masyarakat, pemerhati sejarah, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara yang diwakili Alfience Roringpandey menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Fasigaro Maluku Utara atas inisiatifnya menyelenggarakan seminar yang dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga dan memperkenalkan kembali sejarah lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, pelaksanaan seminar ini mendapat dukungan melalui dana bantuan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan yang disalurkan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara.
Sementara itu, Ketua Yayasan Fasigaro Maluku Utara, Muahjir Rasid, mengatakan seminar tersebut merupakan bentuk komitmen yayasan dalam menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap jejak Perang Dunia II yang masih tersimpan di wilayah Wasile Tengah.
Ia menegaskan, generasi muda memiliki peran penting sebagai penerus dalam menjaga dan melestarikan warisan sejarah agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Alfience menjelaskan bahwa berbagai peninggalan Perang Dunia II yang terdapat di Kecamatan Wasile Tengah memiliki nilai sejarah yang sangat penting, tidak hanya bagi masyarakat Halmahera Timur, tetapi juga bagi sejarah nasional. Karena itu, upaya pelestarian membutuhkan kerja sama seluruh pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas hingga masyarakat.
> “Saya berharap pemahaman tentang cagar budaya di kalangan generasi muda terus berlanjut sehingga mampu menjaga dan melestarikannya hingga turun-temurun,” ujarnya.
Ia menegaskan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berkolaborasi dalam pelestarian cagar budaya dan warisan sejarah di Maluku Utara.
> “Kami membuka ruang kepada masyarakat untuk berkolaborasi bersama dalam upaya pelestarian cagar budaya dan warisan sejarah yang ada di Maluku Utara,” katanya.
Alfience juga mengajak masyarakat Wasile Tengah untuk membentuk komunitas pelestarian cagar budaya sebagai mitra pemerintah dalam mengidentifikasi, mendokumentasikan, menjaga, serta mempromosikan berbagai situs bersejarah yang ada di wilayah tersebut.
Menurutnya, apabila komunitas tersebut telah terbentuk, Balai Pelestarian Kebudayaan siap mendampingi, termasuk mendorong pengajuan proposal kepada Kementerian Kebudayaan agar berbagai program pelestarian, penelitian, pendokumentasian hingga pemanfaatan situs sejarah dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Ia menilai keberadaan komunitas pelestarian cagar budaya akan menjadi langkah strategis dalam memperkuat perlindungan situs-situs bersejarah di Wasile Tengah sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga warisan budaya.
Seminar ini diharapkan menjadi momentum memperkuat komitmen bersama dalam melestarikan jejak Perang Dunia II yang menjadi bagian dari kekayaan sejarah Halmahera Timur. Selain menjadi ruang berbagi pengetahuan, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu melahirkan kolaborasi nyata antara masyarakat dan pemerintah dalam mengembangkan potensi sejarah sebagai sumber pendidikan, penelitian, sekaligus mendukung pengembangan wisata sejarah dan budaya di Kabupaten Halmahera Timur.








































