Banggai, Detikharianpos.com – Turnamen Berani Juara 2026 di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menjadi sorotan setelah diwarnai insiden kekerasan saat laga Taliabu Muda FC melawan Bunta Putra FC, Kamis (16/7/2026). Seorang pemain Taliabu Muda FC mengalami luka robek pada telinga hingga harus menjalani lima jahitan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Detikharianpos.com, insiden bermula ketika kedua tim terlibat duel perebutan bola di tengah lapangan. Seorang pemain Bunta Putra FC diduga melayangkan siku keras ke arah pemain Taliabu Muda FC hingga korban terjatuh dan mengalami luka serius pada bagian telinga.
Suasana pertandingan seketika memanas. Pemain, ofisial, serta penonton langsung memprotes insiden tersebut karena dinilai membahayakan keselamatan pemain. Namun, wasit tidak mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang diduga melakukan pelanggaran keras tersebut sehingga memicu kekecewaan dari berbagai pihak.
Selain insiden siku yang menyebabkan korban mengalami luka robek pada telinga, video pertandingan yang beredar juga memperlihatkan dugaan tindakan lanjutan. Dalam rekaman tersebut, sesaat setelah pemain Taliabu Muda FC terjatuh di lapangan, tampak seorang pemain Bunta Putra FC bernomor punggung 97 diduga sengaja menginjak bagian kaki korban. Dugaan aksi tersebut semakin memicu kritik publik terhadap kepemimpinan wasit karena dinilai tidak mengambil tindakan tegas terhadap rangkaian insiden yang terjadi selama pertandingan berlangsung.
Korban kemudian dievakuasi ke Puskesmas Pagimana untuk mendapatkan penanganan medis. Akibat luka robek pada bagian telinga, korban harus menjalani tindakan penjahitan sebanyak lima jahitan. Setelah mendapat penanganan awal, korban direncanakan dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan lebih lengkap untuk menjalani perawatan lanjutan.
Saat dikonfirmasi, pelatih Taliabu Muda FC, Mislan Syarif, mengaku sangat menyayangkan insiden yang mencoreng jalannya turnamen tersebut. Menurutnya, para pemain Taliabu Muda FC merupakan pemain-pemain muda yang sedang dipersiapkan sebagai regenerasi menghadapi berbagai kompetisi pada masa mendatang.
Mislan mengatakan timnya menghadapi pemain-pemain senior yang telah memiliki pengalaman bertanding di berbagai liga. Karena itu, ia berharap para pemain senior mampu menunjukkan sikap profesional dengan tetap mengedepankan sportivitas serta memberikan contoh yang baik kepada pemain muda.
“Silakan bermain maksimal, bermain keras itu bagian dari sepak bola. Tetapi bermainlah sepak bola, bukan adu fisik. Anak-anak ini datang mencari pengalaman dan pembinaan, bukan menjadi korban kekerasan di lapangan,” ujar Mislan.
Ia mengungkapkan, saat insiden terjadi dirinya langsung meminta kepada wasit dan panitia agar pertandingan dihentikan sementara. Permintaan itu disampaikan karena ia khawatir situasi di lapangan semakin memanas dan berpotensi memicu bentrokan yang lebih besar di antara kedua tim.
Namun, menurut Mislan, panitia akhirnya memutuskan pertandingan tidak dilanjutkan pada hari itu dan menjadwalkan sisa pertandingan berlangsung pada Minggu mendatang. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan situasi di lapangan yang dinilai sudah tidak lagi kondusif.
Mislan juga mempertanyakan keputusan wasit yang tidak memberikan kartu merah kepada pemain yang diduga melakukan aksi kekerasan tersebut. Menurutnya, dampak dari pelanggaran itu sangat jelas karena korban harus mendapatkan penanganan medis akibat cedera serius.
“Yang kami sesalkan, pemain yang diduga melakukan tindakan itu tetap berada di lapangan. Tidak ada kartu merah, tidak ada sanksi. Ada apa dengan wasit dan panitia? Keselamatan pemain harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan,” tegasnya.
Menurut Mislan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pemain yang diduga melakukan aksi kekerasan tersebut merupakan pemain asal luar daerah yang dikontrak untuk memperkuat Bunta Putra FC selama Turnamen Berani Juara 2026 berlangsung di Kecamatan Pagimana.
Insiden ini memicu kecaman dari berbagai kalangan pecinta sepak bola. Banyak pihak menilai tindakan yang terekam dalam pertandingan tidak mencerminkan nilai-nilai sportivitas, sementara keputusan wasit yang tidak memberikan tindakan tegas dinilai turut memperburuk situasi dan mencederai semangat fair play dalam sebuah kompetisi.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari wasit yang memimpin pertandingan, panitia pelaksana Turnamen Berani Juara 2026, maupun manajemen Bunta Putra FC terkait insiden tersebut maupun video yang beredar di media sosial. (*)








































