SPI Desak RUU Reforma Agraria Benar-Benar Berpihak kepada Petani dan Rakyat

- Jurnalis

Senin, 14 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Detikharianpos.com — Serikat Petani Indonesia (SPI) mendesak DPR RI memastikan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengaturan Reforma Agraria benar-benar menjadi instrumen untuk menjalankan reforma agraria sejati.

Desakan itu disampaikan SPI bersama lebih dari 1.500 petani dari berbagai daerah dalam aksi massa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (14/9/2026).

SPI menilai pembahasan RUU tersebut merupakan momentum penting untuk memperbaiki ketimpangan penguasaan tanah, menyelesaikan konflik agraria secara berkeadilan, serta menjamin perlindungan dan kesejahteraan petani maupun masyarakat perdesaan.

Ketua Umum SPI, Henry Saragih, mengatakan reforma agraria merupakan amanat konstitusi yang harus diarahkan untuk mengatasi ketimpangan penguasaan tanah dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Sejak awal, reforma agraria merupakan amanat konstitusi untuk mengatasi ketimpangan penguasaan tanah dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejarah panjang ketimpangan agraria telah melahirkan konflik, kemiskinan struktural, dan keterbatasan akses rakyat terhadap tanah,” ujar Henry.

Menurutnya, kehadiran RUU Pengaturan Reforma Agraria seharusnya menjadi instrumen untuk mengoreksi struktur penguasaan dan kepemilikan tanah sekaligus menyelesaikan konflik agraria secara adil.

“SPI mendukung adanya RUU Pengaturan Reforma Agraria sebagai upaya mempercepat pelaksanaan reforma agraria di Indonesia. Namun, dukungan tersebut diberikan sepanjang RUU ini benar-benar menjadi instrumen menjalankan reforma agraria sejati, bukan sekadar melahirkan kerangka hukum baru yang justru menjauh dari tujuan keadilan agraria,” tegas Henry.

Bukan Sekadar Sertifikasi Tanah

SPI menegaskan reforma agraria tidak boleh direduksi menjadi sekadar sertifikasi tanah atau legalisasi aset.

Reforma agraria, menurut SPI, harus menjadi perubahan struktural melalui redistribusi tanah untuk mengatasi ketimpangan penguasaan dan kepemilikan tanah yang selama ini terjadi.

Tanpa perubahan struktur penguasaan tanah, SPI menilai ketimpangan agraria akan terus berlangsung dan tujuan keadilan sosial sulit diwujudkan.

Karena itu, SPI meminta RUU tersebut memuat ketentuan konkret mengenai penyelesaian konflik agraria struktural, perlindungan hak petani, kelembagaan reforma agraria yang kuat, serta pengaturan reforma agraria di kawasan hutan, perkebunan, real estate, industri eksploitatif, dan pariwisata skala besar yang selama ini menjadi salah satu sumber konflik agraria.

Tolak Konsep “Tanah Sisa”

SPI juga secara tegas menolak pendekatan reforma agraria berbasis “tanah sisa”.

Menurut SPI, tanah untuk reforma agraria harus disediakan sejak tahap perencanaan dan tidak sekadar mengandalkan lahan yang tersisa setelah dialokasikan untuk berbagai kepentingan.

SPI mendorong agar sekurang-kurangnya 80 persen tanah yang dikuasai atau dimiliki korporasi dapat dialokasikan untuk kepentingan reforma agraria bagi petani dan rakyat.

Kebijakan tersebut dinilai penting agar penataan penguasaan dan kepemilikan tanah tidak justru didominasi kepentingan korporasi di sektor kehutanan, perkebunan, pariwisata, real estate maupun industri skala besar.

Tolak Bank Tanah dan HPL

SPI juga menolak masuknya substansi kebijakan dari Undang-Undang Cipta Kerja yang dinilai bertentangan dengan prinsip reforma agraria sejati, khususnya terkait Bank Tanah dan Hak Pengelolaan (HPL).

SPI meminta reforma agraria tetap berlandaskan prinsip bahwa tanah memiliki fungsi sosial dan tidak boleh dikuasai secara berlebihan oleh segelintir pihak.

Soroti Konflik di Kawasan Hutan

Persoalan konflik agraria di kawasan hutan juga menjadi perhatian SPI.

SPI meminta pengaturan dalam RUU Reforma Agraria diselaraskan dengan kebijakan penertiban kawasan hutan melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH).

Menurut SPI, penertiban kawasan hutan harus diarahkan untuk mendukung reforma agraria dan tidak boleh justru mengambil atau menghilangkan tanah petani yang telah menjadi bagian dari lokasi reforma agraria.

READ  LPP-TIPIKOR RI Dorong Pengawasan Ketat Dana Transfer ke Daerah 2027

Dorong Lembaga Khusus Reforma Agraria

SPI turut mendorong pembentukan lembaga khusus reforma agraria yang memiliki kewenangan lintas sektoral.

Lembaga tersebut diharapkan mampu menangani implementasi reforma agraria, penyelesaian konflik agraria, serta berbagai persoalan yang berkaitan dengan pelaksanaan reforma agraria secara terpadu.

SPI juga meminta adanya keterwakilan organisasi atau gerakan petani dalam lembaga tersebut di setiap tingkatan.

Minta UNDROP Jadi Rujukan

Selain itu, SPI meminta RUU Pengaturan Reforma Agraria mengacu pada United Nations Declaration on the Rights of Peasants and Other People Working in Rural Areas (UNDROP).

Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut dinilai penting sebagai salah satu standar perlindungan terhadap petani dan masyarakat yang bekerja di wilayah perdesaan.

SPI menilai norma perlindungan tersebut perlu menjadi bagian dari kerangka hukum nasional agar hak-hak petani, masyarakat adat, dan masyarakat perdesaan mendapatkan perlindungan yang lebih kuat.

Tujuh Tuntutan SPI

Dalam aksi tersebut, SPI menyampaikan tujuh tuntutan utama kepada DPR RI:

1. Memperkuat UUPA Tahun 1960, bukan menggantikannya, serta memastikan RUU berlandaskan Pasal 33 UUD 1945.

2. Menjadikan reforma agraria sebagai perubahan struktural melalui redistribusi tanah, bukan sekadar sertifikasi atau legalisasi aset.

3. Menolak reforma agraria berbasis “tanah sisa” dan mendorong sekurang-kurangnya 80 persen tanah yang dikuasai atau dimiliki korporasi untuk kepentingan petani dan rakyat.

4. Menolak masuknya substansi Bank Tanah dan HPL yang dinilai bertentangan dengan prinsip reforma agraria sejati.

5. Memastikan penyelesaian konflik kawasan hutan diarahkan untuk kepentingan reforma agraria dan tidak merugikan petani.

6. Membentuk lembaga khusus reforma agraria yang memiliki kewenangan lintas sektor dan melibatkan keterwakilan organisasi petani.

7. Menjadikan UNDROP sebagai salah satu rujukan dalam memberikan perlindungan terhadap petani dan masyarakat perdesaan.

SPI menilai RUU Pengaturan Reforma Agraria akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan agraria Indonesia ke depan.

Karena itu, proses pembahasannya dinilai harus dikawal secara terbuka oleh petani, rakyat tak bertanah, masyarakat adat, dan kelompok masyarakat lainnya agar tidak menyimpang dari tujuan reforma agraria.

Melalui aksi di depan Gedung DPR RI, SPI menegaskan bahwa reforma agraria tidak boleh berhenti pada kebijakan administratif. Reforma agraria harus mampu mengubah struktur penguasaan tanah yang timpang, menyelesaikan konflik agraria, memberikan tanah kepada rakyat yang membutuhkan, serta menjamin kehidupan dan kesejahteraan petani.

Bagi SPI, tanah harus diposisikan sebagai sumber kehidupan dan kesejahteraan rakyat—bukan menjadi instrumen untuk memperkuat dominasi korporasi. A

Related posts:

MK Ubah Tafsir Aturan Pemberhentian Sementara Kepala Daerah Berstatus Terdakwa

Oktober 29, 2026
Nasional

SMUK Apresiasi Respons Kementerian ESDM, Desak Pengaduan Dugaan Pelanggaran PT ANI Segera Dituntaska...

Oktober 29, 2026
Nasional

Jokowi Dipanggil JPU ke Sidang Kasus Ijazah, Ajudan: Insyaallah Datang

Oktober 29, 2026
Nasional

DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Dasco: Kado Terindah bagi Buruh

Oktober 19, 2026
Nasional

Kematian Bharada Laurentius Valdo Jadi Ujian Komitmen Kapolri, AMA Jakarta Desak Pengusutan Tuntas

Oktober 17, 2026
Nasional

Jokowi Sebut Ada Operasi Politik di Balik Isu Ijazah, Ray Rangkuti Pertanyakan Kejelasan Aktornya

Oktober 17, 2026
Nasional

Mayjen TNI Dr. Nefra Firdaus Resmi Jabat Pangdam XXVIII/ Moloku Kie Raha, Tonggak Sejarah Baru TNI A...

Oktober 17, 2026
Nasional

Wacana Alih Fungsi 12,7 Juta Hektare Hutan untuk Sawit Demi Biodiesel B50-B100 Picu Kekhawatiran

Oktober 16, 2026
Nasional

Tiga Proyek Jalan Rp57 Miliar di Halsel Disorot, FORMAHSEL Desak KPK Periksa Kadis PUPR

Oktober 16, 2026
Press Release

PP Formapas Desak KPK Periksa Sejumlah Kasus Dugaan Skandal Korupsi Ikut Menyeret Rizal Marsaoly

Oktober 10, 2026
Nasional

Saat MK Putus Gugatan Ijazah Gibran, Jokowi Temui Prabowo di Kertanegara

Oktober 7, 2026
Nasional

MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SMA Gibran, Gugatan PHPU Tak Dapat Diterima

Oktober 7, 2026
Nasional

Kecelakaan Maut PT ANI, SMUK Desak ESDM Lakukan Evaluasi Menyeluruh

Oktober 6, 2026
Nasional

DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Ini Poin Penting bagi Pekerja

Oktober 6, 2026
Nasional

HUT ke-81 TNI, Prabowo Tegaskan Prajurit Harus Selalu Bersama Rakyat

Oktober 5, 2026
Nasional

Prabowo Lantik Wantimpres, Akademisi Asal Maluku Utara Margarito Kamis Masuk

Oktober 2, 2026
Nasional

LPP-TIPIKOR RI Dorong Pengawasan Ketat Dana Transfer ke Daerah 2027

September 30, 2026
Nasional

Rencana Pendidikan Gratis hingga PTN, Kebutuhan Anggaran Diperkirakan Rp393,7 Triliun

September 27, 2026
Nasional

Komdigi Pastikan Surat Pemadaman Internet Nasional 25–27 September Adalah Hoaks

September 24, 2026
Nasional

Pemkab Halteng Raih Dua Penghargaan Kemendagri, Terbaik I Program 3 Juta Rumah

September 19, 2026
Nasional

Prabowo Tanggapi Wacana Federalisme Maluku Utara: Minta Persoalan Pusat-Daerah Dilihat Objektif

September 19, 2026
Nasional

BMKG: Puncak Musim Kemarau Masih Berlangsung hingga Akhir Oktober 2026

September 18, 2026
Nasional

Prabowo Ungkap Investasi Besar Akan Masuk Indonesia dalam Beberapa Pekan

September 17, 2026
Nasional

Prabowo Dorong Pelaku Karhutla Dijerat ''Terorisme Ekologi''

September 16, 2026
Nasional

Prestasi Nasional, Maluku Utara Raih Juara Layanan Investasi 2026

September 16, 2026
Jakarta

Belum Temui Titik Terang, Sherly Tjoanda Keluhkan Ke DPR Terkait Usulan Redistribusi dan Sertifikasi...

September 15, 2026
Jakarta

Gantikan Purbaya, Suahasil Nazara Prioritaskan APBN Kredibel

September 14, 2026
Jakarta

Kasus Vila Loga Montana Ternate, Berlanjut Di Meja Podcast Syukur Mandar, Nurjaya Ceritakan Kronolog...

September 12, 2026
Jakarta

BGN Tegaskan Tak Ada Pungutan Operasional SPPG, Mitra Diminta Laporkan Oknum

Agustus 30, 2026
Nasional

APMM Gelar Aksi di Kejaksaan Agung, Desak Pengusutan Tuntas Dugaan Korupsi Dana PON XX Papua

Agustus 6, 2026
Jakarta

GPM Maluku Utara Kepung KPK, Desak Usut Dugaan Tambang Nikel Ilegal dan Periksa Sekda Haltim

Juli 22, 2026
Jakarta

AKPERSI Tebar Berkah Ramadhan, Santuni Anak Yatim dan Dhuafa

Maret 8, 2026
Jakarta

AKPERSI Dukung Kebijakan Komdigi Batasi Akses Medsos Anak

Maret 6, 2026
Press Release

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikharianpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MK Ubah Tafsir Aturan Pemberhentian Sementara Kepala Daerah Berstatus Terdakwa
SMUK Apresiasi Respons Kementerian ESDM, Desak Pengaduan Dugaan Pelanggaran PT ANI Segera Dituntaskan
Jokowi Dipanggil JPU ke Sidang Kasus Ijazah, Ajudan: Insyaallah Datang
DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Dasco: Kado Terindah bagi Buruh
Kematian Bharada Laurentius Valdo Jadi Ujian Komitmen Kapolri, AMA Jakarta Desak Pengusutan Tuntas
Jokowi Sebut Ada Operasi Politik di Balik Isu Ijazah, Ray Rangkuti Pertanyakan Kejelasan Aktornya
Mayjen TNI Dr. Nefra Firdaus Resmi Jabat Pangdam XXVIII/ Moloku Kie Raha, Tonggak Sejarah Baru TNI AD di Maluku Utara
Wacana Alih Fungsi 12,7 Juta Hektare Hutan untuk Sawit Demi Biodiesel B50-B100 Picu Kekhawatiran

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:46 WIT

MK Ubah Tafsir Aturan Pemberhentian Sementara Kepala Daerah Berstatus Terdakwa

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:48 WIT

SMUK Apresiasi Respons Kementerian ESDM, Desak Pengaduan Dugaan Pelanggaran PT ANI Segera Dituntaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 04:36 WIT

Jokowi Dipanggil JPU ke Sidang Kasus Ijazah, Ajudan: Insyaallah Datang

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:00 WIT

DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Dasco: Kado Terindah bagi Buruh

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:35 WIT

Kematian Bharada Laurentius Valdo Jadi Ujian Komitmen Kapolri, AMA Jakarta Desak Pengusutan Tuntas

Berita Terbaru

error: Content is protected !!