Di Bawah Pohon Harapan: Menelusuri Liku Harga Kopra dan Nasib Petani Kelapa

- Jurnalis

Senin, 22 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis

 

Oleh: 𝗦𝗲𝗳𝗻𝗮𝘁 𝗦𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝘂𝗮, 𝗦.𝗜𝗣

 

Kelapa sering dijuluki sebagai “pohon kehidupan” atau “pohon seribu manfaat”. Dari akar hingga pucuk, hampir semua bagiannya bisa dimanfaatkan. Namun, di balik romantisme julukan tersebut, tersimpan sebuah realita pahit yang harus dihadapi oleh para petani kelapa di Halmahera Timur khususnya di Desa Dodaga Kecamatan Wasile Timur Kabupaten Halmahera Timur: ketidakpastian harga kopra yang terus-menerus berfluktuasi serta diterpa ancaman inflasi yang terus membayangi baik 𝗽𝗲𝘁𝗮𝗻𝗶 maupun 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗸𝘂𝗹𝗮𝗸.

Bagi petani, harga kopra bukan sekadar angka di papan tulis pasar yang coba dimainkan oleh para tengkulak, melainkan menjadi penentu apakah besok mereka bisa makan dengan layak ataukah harus berutang. Bagi para tengkulak, mereka sudah bersusah payah menimbun kopra di gudang dengan harga yang hampir memegang leher petani kini berhadapan dengan ongkos yang harus dikeluarkan untuk membayar buruh, karyawan, operasional, dan lain-lain, serta mengejar kontrak harga yang sudah disepakati sama bos besarnya (Kartel),jika salah perhitungan sedikit, para tengkulak tersebut bukannya untung malah buntung.

𝗢𝗺𝗯𝗮𝗸 𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴

Harga kopra di Halmahera Timur bergerak layaknya ombak di lautan tanjung gorua. Kadang ia naik tinggi, membawa senyum dan harapan bagi petani. Namun, tak jarang ia menghempas ke bawah, menghancurkan perhitungan modal yang sudah disusun mati-matian. Fluktuasi ini bukan terjadi tanpa sebab. Harga kopra sangat dipengaruhi oleh pasar internasional, perubahan iklim yang memengaruhi hasil panen, hingga pergeseran permintaan domestik

𝗣𝗮𝗿𝗮𝗱𝗼𝗸𝘀: 𝗜𝗹𝘂𝘀𝗶 𝗸𝗲𝗺𝗮𝗸𝗺𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗵𝗶𝗺𝗽𝗶𝘁𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗳𝗹𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗷𝗲𝗿𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗨𝘁𝗮𝗻g

Secara makro, tingginya harga komoditi pertanian khususnya Kopra seringkali dijadikan indikator membaiknya sektor pedesaan. Ketika harga kopra mencatatkan angka yang tinggi, narasi yang dibangun adalah tentang meningkatnya 𝙆𝙚𝙨𝙚𝙟𝙖𝙝𝙩𝙚𝙧𝙖𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙩𝙖𝙣𝙞.

Misalnya Desa Dodaga per tiga kuartalnya dalam setahun hampir menghasilkan seribuan ton kopra, misalkan dikalikan dengan nilai harga sekarang Rp. 12.000 x 1.000 Ton = Rp. 12 Miliar, maka perputaran uang di desa Dodaga sendiri sebesar 12 Miliar Rupiah dalam setahun. Namun realitas di akar masyarakat kini menunjukan kisah yang berbeda, tingginya harga kopra hanyalah sebuah ilusi. Kenaikan tersebut nyaris tidak berdampak signifikan pada “𝘿𝙖𝙥𝙪𝙧 𝙀𝙠𝙤𝙣𝙤𝙢𝙞” rumah tangga mereka, karena keuntungan yang didapat langsung tergerus oleh melambungnya harga kebutuhan pokok (sembako), naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), serta belitan utang yang tak berkesudahan dengan para tengkulak.

Secara logika sederhana, kenaikan harga kopra seharusnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan petani kopra. Memang mereka menerima uang tunai dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya.

Namun euforia (kegembiraan) ini hanya bertahan sesaat di tangan. karena daya beli mereka justru sedang dihancurkan oleh inflasi bahan pokok. Harga beras, minyak goreng, gula, daging, dan ikan mengalami kenaikan yang seringkali lebih agresif dibandingkan presentase kenaikan harga kopra.

Itu baru satu soal, soal dapur ekonomi, belum lagi soal pendidikan dan pergumulan membangun rumah yang layak. Dahulu rentang waktu antara tahun 2004 – 2007 banyak orang tua di Desa Dodaga mengirim anak-anaknya (termasuk saya) ke berbagai kota, baik di bilangan kota Ternate, Tobelo, Manado, Palu, hingga Ibu Kota Jakarta. Mereka dikirim ke kota bukan untuk ngamen (ngemis), bukan menjadi preman atau seperti tukang pukul di Tanah Abang Jakarta, bukan pula hendak membeli tuyul di Klaten dan Jember supaya cepat kaya.

Tetapi mereka dikirim untuk menimba ilmu di berbagai Perguruan Tinggi Universitas dengan berbagai pengalaman dan dialektika yang terus berproses secara dinamis disana. Terlepas dari semua beban biaya pendidikan dan pergumulan yang melatarinya, orang tua kami yang nota benenya sebagai petani kopra memiliki tantangan tersendiri, meskipun harga kopra di masa itu berada diangka terendah antara 4.000 – 6.000 per kilogram tetapi angka inflasi masih cukup terkendali, harga beras Rp. 3.000- Rp. 4.000 per kg, minyak goreng Rp. 6.000 per liter, BBM bensin Rp. 4.500 per liter. Pendek kata, anak-anak bisa menyelesaikan studinya hingga lulus Sarjana tanpa menimbulkan persoalan pelik.

READ  Abubakar Manuai Resmi Maju Sebagai Calon Om Pala Teluk Buli, Usung Semangat Membangun Kampung Bersama Rakyat

Kini soal membangun rumah layak (permanen) memiliki tantangan tersendiri, karena meskipun harga kopra yang terbilang tinggi namun semua bahan bangunan mulai dari batu, pasir, besi, semen, kayu, keramik hingga atap seng dan upah tukang harganya ikut naik, seperti lagi sedang berlomba-lomba menaikan harga di Indeks pasar saham global sebelum ekonomi runtuh. Lagi-lagi petani kopra yang menjadi sasarannya, mereka harus mengernyitkan dahi sambil berbalik dan sedikit malu-malu harus memohon kepada tengkulak yang adalah bosnya untuk mengintervensi soal “Dapur ekonominya”, biaya pendidikan anak, hingga membangun rumah. Kalaupun tiga sektor (ekonomi, pendidikan, rumah layak) ini dapat terwujud, pasti dapat dipastikan angka-angka utang per satu orang petani saja memakan berlembar-lembar kertas di tangan tengkulak.

Tentu tidak semua, tetapi mayoritas petani kopra terus melintasi siklus ini tiada henti. Inilah sebuah ironi.

Lebih parahnya lagi Ketika harga kopra jatuh atau terjun bebas seperti seorang pengendara motor yang lagi tergelincir dari gunung bernat Hilaitetor karena permukaan jalan licin, namun bahan sembako, BBM, bahan/material bangunan, biaya kuliah anak, upah panjat kelapa dan belah kore kelapa tidak turun.

Dalam posisi ini peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam mendorong normalisasi pasar dan menstabilkan harga sehingga para petani kopra masih bisa menikmati sedikit dari pendapatannya secara adil.

𝗕𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗽𝗮 𝗦𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝗴𝗶

Peran pemerintah harus bertransformasi dari sekadar regulator menjadi beberapa peran utama

1. 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙩𝙖𝙗𝙞𝙡𝙞𝙨𝙖𝙩𝙤𝙧 𝙈𝙖𝙠𝙧𝙤 (𝙎𝙩𝙖𝙗𝙞𝙡𝙞𝙨𝙖𝙨𝙞 𝙝𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙠𝙤) : pemerintah harus memperkuat cadangan pangan di daerah dan memperpendek rantai pasokan bahan pokok dari sentra produksi ke desa-desa serta mendorong program pasar murah atau operasi pasar harus dilakukan secara preventif di sentra pertanian sebelum harga melonjak.

2. 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙁𝙖𝙨𝙞𝙡𝙞𝙩𝙖𝙩𝙤𝙧 𝙋𝙖𝙨𝙖𝙧: mendorong program pasar murah, atau operasi pasar harus dilakukan secara preventif di sentra pertanian sebelum harga melonjak.

3. 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙥𝙚𝙡𝙞𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜 𝙨𝙤𝙨𝙞𝙖𝙡 : pemerintah harus bertindak sebagai perisai atau 𝙟𝙖𝙧𝙞𝙣𝙜 pengaman bagi warga masyarakat, khususnya warga masyarakat kelompok rentan seperti petani kecil, karena pasar tidak memiliki rasa kemanusiaan, jika dibiarkan murni oleh mekanisme pasar, petani kopra yang sedang terlilit utang akan semakin terpuruk. Disinilah negara harus hadir untuk melindungi hak-hak dasar warganya.

4. 𝙍𝙚𝙜𝙪𝙡𝙖𝙨𝙞 𝙃𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙋𝙖𝙨𝙖𝙧: pemerintah daerah wajib melindungi petani dari praktik monopoli atau kartel di tingkat tengkulak yang sengaja menekan harga beli di desa saat panen raya, namun menjualnya dengan harga tinggi di Kota.

𝗦𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻

harga kopra yang melambung tinggi hanyalah “pesta diatas kertas” Jika tidak disertai dengan pengendalian biaya hidup dan Reformasi struktural.

Strategi pemerintah daerah tidak lagi bersifat parsial. Hanya dengan memotong rantai tengkulak, menyediakan akses modal yang sesuai siklus panen, dan menjamin akses pendidikan yang terjangkau, petani kopra dapat bertransformasi dari kelompok yang rentan menjadi kelas menengah pedesaan yang sesungguhnya. Pada titik itulah, harga kopra yang tinggi benar-benar bermakna dan berdampak adil pada dapur ekonomi mereka.

 

Related posts:

Kebakaran di Lorong Siswa Desa Cemara Jaya, Polsek Wasile, Warga dan BPBD Bergerak Cepat

Agustus 9, 2026
Halmahera Timur

Gerak Cepat Polsek Wasile Padamkan Kebakaran di Toboino dan Tukur-Tukur

Agustus 8, 2026
Halmahera Timur

Soroti Konflik Masyarakat Subaim dengan PT ARA, Ketua Bidang Hukum dan Advokasi GMNI Maluku Utara De...

Agustus 8, 2026
Halmahera Timur

Ketegangan Warga Subaim dan PT ARA di Jalur Hauling, Masyarakat Tuntut Kompensasi Kesepakatan 2013

Agustus 8, 2026
Halmahera Timur

Kemarau Melanda, Petani Wasile Terancam Gagal Panen, Pemerintah Diminta Hadirkan Solusi

Agustus 8, 2026
Halmahera Timur

Camat Wasile Ajak Warga Kibarkan Merah Putih, Semarak HUT RI Harus Kalahkan Euforia Piala Dunia

Agustus 5, 2026
Halmahera Timur

Rangkaian HUT RI ke-81, Kades Suirun Resmi Buka Lomba Sepak Bola Antar RT di Desa Sidomulyo

Agustus 5, 2026
Halmahera Timur

Bukan Lagi Bendera Tim Favorit, Camat Wasile Timur Ajak Warga Kibarkan Sang Saka Merah Putih

Agustus 5, 2026
Halmahera Timur

Keluarga Hj. Latfa Barati Laporkan Dugaan Pemalsuan Surat Jual Beli Tanah ke Polres Haltim

Agustus 5, 2026
Halmahera Timur

Sunarti Passy Maju sebagai Calon BPD, Siap Menjadi Penyambung Aspirasi Warga Wayamli

Agustus 4, 2026
Halmahera Timur

BI Perkuat Kemandirian Pesantren, Lahan Pertanian Ibadurrahman Berkembang Enam Kali Lipat

Agustus 2, 2026
Halmahera Timur

Dilepas Penuh Kekeluargaan, AKP Mus Senen Resmi Emban Amanah Baru sebagai Ps. Kabagren Polres Halmah...

Agustus 2, 2026
Halmahera Timur

Keluarga Hj. Latfa Barati Bantah Tanda Tangani Surat Jual Beli Kebun, Dugaan Pemalsuan Akan Dilapork...

Agustus 2, 2026
Halmahera Timur

Terlapor Soroti Penundaan Mediasi Kasus Dugaan Pencurian Kelapa, Minta Polsek Wasile Beri Kepastian ...

Agustus 1, 2026
Halmahera Timur

Surat Kesultanan Ternate Picu Polemik Klaim Jazirah Wasile, Kapita Roni Desak Kesultanan Tidore Past...

Agustus 1, 2026
Halmahera Timur

PISEW dan BSPS Hadir di Batu Raja, Irine Roba Putri Tegaskan Pembangunan Harus Menyentuh Kebutuhan W...

Juli 29, 2026
Halmahera Timur

Yoga Pratama Nomor Start 2 Bersinar di Grasstrack Halmahera Timur 2026, Penampilannya Mulai Dilirik ...

Juli 28, 2026
Olahraga

Gilang Saputra dan Dava Kresna Bersinar di Grasstrack 2026, IMI Halmahera Timur: Bibit Juara Masa De...

Juli 27, 2026
Olahraga

HPMM Tegas Tolak Pembahasan AMDAL PT Feni Haltim di Jakarta, Ancam Boikot Aktivitas Perusahaan

Juli 27, 2026
Daerah

IMI Halmahera Timur Bidik Kejurnas Grasstrack Motocross, Siapkan Daerah Jadi Destinasi Wisata Olahra...

Juli 26, 2026
Daerah

Dominasi Kelas Mini Trail Open, Aksi Gemilang Dava Kresna Putra Sirajudin Berbuah Gelar Juara di Sir...

Juli 26, 2026
Halmahera Timur

Jeritan Petani Desa Bangul: Krisis Air Berkepanjangan dan Sulitnya Pupuk, Pemda Haltim Diminta Seger...

Juli 26, 2026
Halmahera Timur

Jembatan Trans-Wayamli Kian Rusak Bertahun-Tahun, Warga Tagih Aksi Nyata Pemda Haltim

Juli 26, 2026
Halmahera Timur

Masuk Hutan Cari Gaharu, Kakek 69 Tahun di Haltim Hilang Tanpa Jejak

Juli 25, 2026
Halmahera Timur

IMI Halmahera Timur Resmi Terbentuk, Momentum Kebangkitan Dunia Otomotif di Bumi Limabot Faifiye

Juli 24, 2026
Halmahera Timur

Wabup Anjas Taher Resmi Buka Kejuaraan Drag Race dan Grasstrack Halmahera Timur 2026

Juli 24, 2026
Daerah

5K Fun Run Wasile Berlari Siap Digelar, Bangkitkan Semangat Olahraga dan Perkuat Pembinaan Atletik d...

Juli 21, 2026
Halmahera Timur

Dishub Haltim Perketat Pengawasan Andalalin Perusahaan Tambang, Soroti Kendaraan Bertonase Tinggi di...

Juli 21, 2026
Halmahera Timur

Atletik Wato-Wato Gelar Uji Coba Bersama Klub Gamalama Atletik Kota Ternate, Asah Kemampuan Atlet Me...

Juli 20, 2026
Halmahera Timur

Di Tengah Keterbatasan Anggaran, KUA Wasile Timur Tetap Berupaya Layani dan Edukasi Masyarakat

Juli 17, 2026
Halmahera Timur

Pendampingan Standardisasi Pelayanan Ramah Anak di Puskesmas, Dinas P2KBP3A Haltim Perkuat Komitmen ...

Juli 17, 2026
Halmahera Timur

Dinas P2KBP3A Haltim perkuat komitmen sekolah ramah anak melalui pendampingan Standarisasi SRA

Juli 17, 2026
Halmahera Timur

Kejuaraan Perdana Atletik Wato-Wato Bidik Bibit Atlet Haltim

Juli 16, 2026
Halmahera Timur

Bus Sekolah PT WBN/IWIP Mulai Jalani Uji Operasional di Wasile Selatan, Camat dan Dishub Apresiasi K...

Juli 16, 2026
Halmahera Timur

Bus Sekolah Bantuan PT WBN/IWIP Jalani Uji Operasional Perdana di Wasile Selatan

Juli 16, 2026
Halmahera Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel detikharianpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kebakaran di Lorong Siswa Desa Cemara Jaya, Polsek Wasile, Warga dan BPBD Bergerak Cepat
Gerak Cepat Polsek Wasile Padamkan Kebakaran di Toboino dan Tukur-Tukur
Soroti Konflik Masyarakat Subaim dengan PT ARA, Ketua Bidang Hukum dan Advokasi GMNI Maluku Utara Desak Aparat Bersikap Netral
Ketegangan Warga Subaim dan PT ARA di Jalur Hauling, Masyarakat Tuntut Kompensasi Kesepakatan 2013
Kemarau Melanda, Petani Wasile Terancam Gagal Panen, Pemerintah Diminta Hadirkan Solusi
Camat Wasile Ajak Warga Kibarkan Merah Putih, Semarak HUT RI Harus Kalahkan Euforia Piala Dunia
Rangkaian HUT RI ke-81, Kades Suirun Resmi Buka Lomba Sepak Bola Antar RT di Desa Sidomulyo
Bukan Lagi Bendera Tim Favorit, Camat Wasile Timur Ajak Warga Kibarkan Sang Saka Merah Putih

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 06:18 WIT

Kebakaran di Lorong Siswa Desa Cemara Jaya, Polsek Wasile, Warga dan BPBD Bergerak Cepat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:57 WIT

Soroti Konflik Masyarakat Subaim dengan PT ARA, Ketua Bidang Hukum dan Advokasi GMNI Maluku Utara Desak Aparat Bersikap Netral

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:07 WIT

Ketegangan Warga Subaim dan PT ARA di Jalur Hauling, Masyarakat Tuntut Kompensasi Kesepakatan 2013

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:15 WIT

Kemarau Melanda, Petani Wasile Terancam Gagal Panen, Pemerintah Diminta Hadirkan Solusi

Rabu, 5 Agustus 2026 - 14:07 WIT

Camat Wasile Ajak Warga Kibarkan Merah Putih, Semarak HUT RI Harus Kalahkan Euforia Piala Dunia

Berita Terbaru